Selasa, 13 Januari 2015

asuransi mobil 2015

Memilih asuransi kendaraan memang tidak gampang. Apalagi di
tengah-tengah persaingan yang ketat dewasa ini. Hampir
semua perusahaan asuransi memiliki produk asuransi
kendaraan. Tinggal calon nasabah memilih yang mana yang
layak diambil.

Untuk itu di bawah ini kami sajikan beberapa
kriteria agar tidak salah pilih:

1. Calon nasabah jangan terpaku pada tarif premi murah. Sebab,
dalam persaingan dewasa ini, banyak perusahaan asuransi yang
banting harga, menawarkan tarif premi murah. Padahal belum
tentu ada jaminan pelayanan.

2. Lihat paket asuransi yang ditawarkan. Misalnya luas jaminan
sampai seberapa banyak. Sebab, luas jaminan ini harus
disesuaikan dengan keinginan dan kemampuan calon nasabah.

3. Lihat pula jaringan dari perusahaan asuransi yang
bersangkutan. Misalnya berapa banyak punya kantor cabang
atau berapa banyak punya bengkel rekanan, sehingga begitu
ada klaim tidak menunggu lama guna memperbaiki kendaraan
atau melaporkan kendaraan yang hilang.

4. Bisa ditanyakan lebih dahulu kemudahan, fasilitas atau nilai
tambah apa yang bisa diperoleh bila membeli polis di
perusahaan itu. Misalnya, apakah ada mobil derek, mobil
pengganti atau hotline service, jasa montir, mobil ambulans
dan lain sebagainya. Dan, yang tak kalah pentingnya adalah
kemudahan untuk melakukan perubahan-perubahan serta
kemudahan dalam bertanya.

5. Perlu dipertimbangkan pula bonafiditas perusahaan
asuransinya. Jangan sampai begitu ada klaim, bengkel rekanan
pun tidak punya. Sebab, banyak perusahaan asuransi
mengklaim mereka adalah yang terbaik. Padahal kondisi
keuangannya sudah sangat parah.

Selain yang tersebut di atas, masih ada beberapa faktor yang
seharusnya dipertimbangkan dalam proses memilih suatu
perusahaan asuransi termasuk dalam memilih produk. Hal yang
perlu diingat bahwa dalam memilih perusahaan asuransi
swasta, maka yang harus dipertimbangkan secara umum adalah
tiga faktor.

Pertama, kekuatan keuangan (security ). Kedua, jasa (service ).
Dan ketiga, biaya atau beban. Kekuatan keuangan asuransi
menyangkut kemampuan keuangan perusahaan tersebut untuk
memenuhi janjinya jika keadaan membutuhkan. Hal ini penting
diketahui, karena tidak sedikit perusahaan asuransi yang
tampak di luarnya mentereng. Misalnya gedungnya bertingkat,
kendaraan direksinya bagus-bagus. Tetapi tatkala terjadi klaim
dari nasabah, perusahaan tersebut tidak mampu membayar.
Dalam menilai kekuatan keuangan ini ada beberapa tolok ukur
yang perlu diperhatikan.

a. Aset dan liabilitasnya. Ini bisa dilihat dari laporan neraca
keuangan yang diumumkan di koran. Lihat juga, apakah
investasinya ditanam pada current atau longterm. Dari segi
liabilitas (kemampuan melunasi kewajiban) akan terlihat di
neraca, bagaimana utangnya pada reasuradur, bagaimana dia
memenuhi kewajiban membayar klaim, dan lain sebagainya.
Indikator liabilitas antara lain net equity (modal sendiri) dibagi
`net premi` (premi bersih) minimal 50%. Modal sendiri dibagi
`gross premi` (premi kotor) minimal 20%. Batas tingkat
solvabilitasnya, yang terlihat dari modal sendiri dibagi premi
bersih minimal 10% dan dana investasi dibagi cadangan teknik
minimal 100%.

b. Underwriting Policy. Di neraca dan laporan tahunan akan
terlihat bahwa asuransinya masih untung, atau mengalami
pertumbuhan laba. Ini berarti underwiting policy-nya bagus.

c. Underwriter-nya. Asuransinya memiliki tenaga-tenaga yang
berkualitas atau tidak. Itu diketahui dari profil perusahaan yang
memuat para underwriter -nya.

Jasa ( service ) merupakan cermin sejauh mana sumber daya
manusia di perusahaan tersebut berkualitas atau tidak. Apalagi,
perusahaan asuransi adalah menjual jasa, maka layanan prima
merupakan kunci utama. Misalnya, sejauh mana kecepatan
pelayanan baik dalam menerbitkan polis apalagi dalam
pembayaran santunan atau klaim.

Selain itu, soal pelayanan sebenarnya bisa dirasakan sendiri
oleh nasabah. Apakah perusahaan asuransi ini sudah betul-
betul memberikan pelayanan terbaik buat nasabahnya.
Dalam hubungan ini perlu juga dipertanyakan, apakah
perusahaan asuransi ini mereasuransikan pada reasuransi yang
keamanannya kelas satu. Ini bisa dilihat dari laporan
tahunannya. Hal ini penting diperhatikan, karena bila
perusahaan tersebut tidak di- back-up oleh reasuransi, besar
kemungkinan perusahaan tersebut bersifat spekulatif dalam
menerima premi.

Masalah biaya adalah seberapa besar biaya yang dikeluarkan
oleh perusahaan asuransi dalam operasionalnya. Kalau lebih
besar biaya dibanding pemasukan, maka jelas perusahaan
tersebut tidak efisien. Kalau sudah tidak efisien, maka ujung-
ujungnya akan mengalami kerugian. Dan, kalau terus-menerus
rugi, pasti tidak sehat.

Dalam hubungan ini bisa juga dilihat harga preminya.
Bandingkan harga premi asuransi yang sama dengan asuransi
yang lain. Mana yang kualitasnya betul-betul baik.
Dewasa ini pemerintah sudah menentukan salah satu tolok ukur
kesehatan asuransi (bukan satu-satunya) yaitu melalui
mekanime RBC (Risk Base Caital). Kalau angka RBC-nya besar,
ini berarti perusahaan tersebut dinilai dalam kondisi baik.

Tetapi kita tidak boleh terpaku semata-mata dengan angka
RBC. Sebab, bisa pula terjadi perusahaan besar yang sedang
melakukan ekspansi besar-besaran seperti membuka banyak
kantor cabang, maka angka RBC-nya pasti akan kecil.
Sebaliknya, ada perusahaan asuransi yang kecil tetapi tidak
pernah melakukan ekspansi, maka angka RBC-nya mungkin
jauh lebih besar.
Jadi, angka RBC tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya
ukuran, apakah perusahaan asuransi itu sehat atau tidak.
Dalam hal ini yang juga patut diperhatikan adalah kinerja
perusahaan tersebut dalam dua atau tiga tahun terakhir.
Seberapa besar keuntungan yang diperoleh tiap tahun, berapa
besar premi bruto yang mereka terima tiap tahun, seberapa
besar penambahan modal dan aset setiap tahun.

Dan, yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana perilaku
manajemen perusahaan tersebut selama ini. Adakah manajemen
perusahaan itu selama ini ingkar janji? Pernahkah manajemen
perusahaan ini mengalami wanprestasi dan lain sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar